Menelusuri Geopark Ciletuh
Menelusuri Geopark Ciletuh-Palabuhan Ratu
Tak kusangka, sebuah doa yang mungkin terlihat sepele bagi orang lain ternyata menjadi sesuatu yang sangat membahagiakan untukku: kesempatan belajar dan berjejaring bersama teman-teman Geopark Youth Forum Indonesia.
Kuniatkan diri untuk menambah ilmu, berlatih komunikasi, dan tentu saja... HOLIDAYY di sela-sela mengajar.
Mobil melaju dari Pandeglang menuju Sukabumi melalui jalur selatan.
“Oh my God, ini seru!” teriakku dalam hati. Padahal baru sampai Bayah.
Kami mengisi amunisi terlebih dahulu di sini. Sepiring pecel ayam dan es cup yang kubeli di pasar malam menjadi bekal sebelum melanjutkan perjalanan.
Jalannya mulai menanjak, menurun, berbelok, dan sesekali menghadirkan tikungan tajam. Sampai tiba-tiba salah seorang teman membuat kehebohan "Liat, bangun-bangun!" . Ada sesuatu yang tidak boleh dilewatkan sepertinya, dan waaaww... Pemandangan laut selatan dari atas bukit.
Cantik sekali. Pantulan cahaya bulan yang redup bertemu dengan kelap-kelip lampu perahu di kejauhan.
Aku cuma bisa melihat dan berpikir, “Oh... ternyata perjalanan ini bakal seru sekali.
Aku akan skip beberapa bagian sampai tiba di hari yang paling membuatku excited. xixi karena hari² sebelumnya hanya materi dan tentu saja bertukar ilmu.
Hari Adventure. The day is it.
Perjalanan dimulai dengan sarapan untuk menambah stamina karena aku yakin hari ini aku membutuhkan banyak energi.
Kami menggunakan mobil tentara untuk menuju lokasi pertama.
“Duh, ingat Wonwoo.” gumamku sambil melihat pc wonu yang menggantung dilanyard kartu anggota youth forum wkwk.
Sempat-sempatnya aku memikirkan cowok K-pop-ku yang sedang wamil hanya karena kendaraan yang kugunakan bersama rombongan.
Ini prioritas hidup.
Alunan lagu Hindia, Baskara, dan satu lagi yang sudah kulupakan menemani perjalanan pertama kami menuju Rumah Tahan Gempa.
Dan ternyata rumah contoh itu benar-benar ada.
Bukan lagi sekadar bualanku ketika menjelaskan di kelas tentang pentingnya bangunan tahan gempa di Indonesia.
Bangunan tersebut menggunakan konsep isolasi dasar untuk mengurangi dampak guncangan gempa. Jadi, bukan sekadar rumah yang “dibuat kuat”, tetapi ada sistem yang membantu memisahkan struktur bangunan dari gerakan tanah.
Sebagai anak Geografi yang sering ngomong soal gempa di kelas, melihat penerapannya secara langsung terasa berbeda. really Different.
Oh!! Ternyata ada. Bukan cuma gambar di PPT!
Salah seorang teman kemudian bercerita bahwa di beberapa negara juga dikembangkan teknologi bangunan tahan gempa dengan berbagai sistem isolasi dan peredam. Ada yang menggunakan konsep magnetik pula.
“Wuaw?”
Masuk akal sih. Gatau juga?. Aku percaya saja dulu. WKWK.
Perjalanan berlanjut ke lokasi kedua: Museum Megalodon?!.
Iya, Megalodon. Hiu raksasa yang biasanya cuma kulihat dari film, ilustrasi, atau internet. Di sini aku melihat bukti keberadaannya berupa fosil gigi yang dipamerkan.
Dan tiba-tiba muncul pikiran:
“Untung hewan ini sudah punah.”
Ngeri juga membayangkan kalau masih harus berenang di laut sambil bertanya-tanya apakah di bawah kaki ada hiu segede bus?.
Next.
Rombongan mengunjungi Pusat Informasi Geopark Ciletuh-Palabuhan Ratu.
I loved this place.
Jujur, aku langsung membayangkan mengajak anak murid ke sini untuk belajar tentang tenaga pembentuk muka bumi.
Banyak batuan dan informasi geologi yang ditampilkan, lengkap dengan foto-foto berbagai bentang alam dan formasi batuan yang ada di kawasan Geopark Ciletuh-Palabuhan Ratu.
Sebagai guru?? (Gurubug), rasanya agak berbeda ketika melihat materi yang biasanya hanya muncul dalam bentuk gambar di buku atau slide presentasi tiba-tiba berada di depan mata.
Spesialnya lagi, Geopark Ciletuh-Palabuhan Ratu merupakan bagian dari jaringan Global Geoparks yang juga menjalin kerja sama dengan geopark lain di dunia.
Aku mengambil beberapa brosur.
Untuk dipakai di kelas?
Atau untuk kenang-kenangan?
Hmm. Dua-duanya mungkin.
Lanjut menaiki mobil.
Panitia menginformasikan bahwa perjalanan berikutnya akan membutuhkan waktu cukup lama karena kami akan menuju Desa Adat.
“WAAA FINALLY!”
Aku kegirangan sendiri di dalam kepala.
Senang rasanya akhirnya bisa menginjakkan kaki di sana. Saat berkuliah, aku termasuk mahasiswa era COVID.
Sedih?
Pasti.
Karena Geografi itu sebenarnya punya “laboratorium” yang sangat luas yaitu alam yg luas itu sendiri. Bukan layar laptop.
Banyak ilmu yang tetap bisa dipelajari lewat kelas dan buku, tetapi rasanya berbeda ketika akhirnya melihat objeknya secara langsung.
Aku bisa memahami sesuatu dengan cara yang berbeda ketika benar-benar berada di tempatnya.
Sepanjang perjalanan, pemandangan terasa hijau, asri, dan damai.
Dan aku kembali berpikir tentang betapa beruntungnya tinggal di Indonesia yang memiliki kondisi geografis dan iklim yang mendukung keberadaan vegetasi yang begitu beragam.
Alunan musik tradisional menyambut rombongan.
Hal pertama yang kurasakan adalah sejuk.
Lalu damai.
Di sana aku berubah menjadi Dora the Explorer, melihat leuit, ikut memukul alu untuk menumbuk padi, ikut mengorek-ngorek pawon untuk meratakan panas api, membantu mengipasi ambu yang sedang mengaduk nasi yang baru matang dan tentu saja, rewel bertanya tentang pertanian sambil sedikit kepo mengenai sistem adat dan kepercayaan.
Namanya juga anak Geografi (cuhh... 😚, sok iye)
Kalau sudah turun lapangan, rasa ingin tahunya suka tidak tahu diri. Lalu... Makan. Kegiatan wajib.
Aku yang kalap melihat nasi berwarna-warni langsung semangat. Sampai kemudian diberitahu bahwa ada aturan:
“Makanan yang sudah di piring harus dihabiskan.”
Masalahnya, makanku memang sedikit. Jadi hari itu aku menghabiskan semuanya. tapi sisa lauk sedikit kuberikan kepada teman (Ngecheat) (mianhamnida)
Saat sesi diskusi, ada peserta yang bertanya,
“Apakah di sini ada tikus?”
Mungkin karena penasaran melihat leuit yang menyimpan berbagai varietas padi dan cadangan pangan dalam jumlah banyak.
Ternyata kata “tikus” justru tidak boleh disebut.
Tikus adalah hama dan hama adalah musuh.
Aku langsung teringat Voldemort.
The one who must not be named.
Setelah berpamitan dan berfoto-foto ria, kami melanjutkan perjalanan menuju site terakhir: Geyser Cisolok.
Salah satu hal yang paling membuatku penasaran.
Airnya panas. Beneran panas lah (anak pantai taunya air asin doang).
Di kawasan ini, air panas keluar secara alami dari permukaan melalui rekahan yang berkaitan dengan sistem geologi dan panas bumi di bawahnya.
Dan di sinilah aku kembali diingatkan bahwa bentang alam yang kita lihat ternyata punya cerita panjang di bawah kaki kita.
Batuan di sekitarnya juga menarik, warnanya beragam. Kurangkai beberapa di tangan untuk difoto dan dimasukan Instagram hihi.
Tidak seperti sungai di Curug Putri yang sebagian besar didominasi batuan andesit. Di sini aku bisa melihat kenampakan batuan yang berbeda dan proses alterasi?? yang membuat lingkungan di sekitar sumber air panas terasa sangat khas.
Aku senang berada di sana.
Bukan cuma karena tempatnya indah.
Tapi karena untuk beberapa jam aku tidak sedang membaca tentang Geografi.
i jump in to Geography, aseek.
Perjalanan ini mungkin hanya beberapa hari.
Tapi untukku, rasanya seperti mengembalikan sesuatu yang sempat hilang selama masa kuliah. Kesempatan untuk melihat langsung, bertanya, menyentuh, berjalan dan menghubungkan apa yang selama ini kupelajari dengan dunia nyata.
Mungkin itu juga alasan kenapa aku selalu merasa Geografi cocok denganku. Karena Geografi tidak berhenti di buku.
Ia ada di jalan yang kami lewati, batuan yang kami lihat, rumah yang dibangun untuk menghadapi gempa, masyarakat yang menjaga adat, sampai air panas yang keluar dari rekahan bumi.
Intinya i loved Ciletuh Palabuhan ratu UGGP.
Malah aku berfikir untuk berkarir disini, haha, mau belajar surfing di Batu karas. Nana belum ke Batu karas ðŸ˜
Eh udah ah, pegel, ini draft dari 2025 yaww, diketik di handphone dengan bahasa semi formal dan acak²an. Mianhamnida.
Komentar
Posting Komentar