LIKA LIKU GURU
Usiaku 26 tahun ketika menulis ini dan aku punya berita.
Berita baiknya, aku masih sehat wal afiat. Berita buruknya, aku officially pengangguran.
Tidak lagi merasakan hectic-nya dunia kerja yang sangat amat tidak nyaman karena status “freelance”. Kenapa dulu mau ambil? Karena seseorang pernah meyakinkanku bahwa aku bisa naik jabatan menjadi pengajar tetap ketika aku sudah 1 tahun di sana.
But here I am,
“Emang manusia nggak ada yang bisa dipercaya,” teriak hatiku. Aku sudah 2 tahun ni malah disuruh nyari sekolah dekat sana biar ga keluar kerjaan.
Menjadi guru di negara ini seperti bermain dengan ketidakpastian, padahal perannya sangat pasti dibutuhkan. Pemerintah seakan tidak ingin rakyat pintar, dengan bukti kecil seperti pengkotak-kotakan status guru, penghambatan penggunaan dana BOS, dan yang terbaru, menggunakan dana pendidikan untuk mengisi perut yang katanya agar rakyat pintar.
So, apa hubungannya dengan aku?
Beberapa kali aku menyambangi sekolah negeri, menanyakan apakah mereka membutuhkan guru Geografi. Sebagian sekolah bilang “butuh”, tapi kemudian mematahkan harapan dengan dalih adanya pemindahan tugas P3K atau takut dihukum jika menerima honorer.
Sebulan, dua bulan P3K berlalu...
Ternyata ada guru baru yang masuk. Tapi bukan P3K. Dia tidak memakai baju Korpri biru.
Like?
Pakai jalur apa? Angkot atau kereta?
Konsekuensi baru juga menunggu ketika seseorang masuk dengan titel “guru honorer”.
Guru titipan.
Guru siluman.
Guru tidak kompeten.
Dll.
Kan?
Sudah kubilang. Sulit sekali.
Ada lagi yang lebih sulit: sekarang menjadi guru wajib memiliki sertifikat pendidik. Ya, aku harus mengikuti seleksi PPG demi mengikuti perkuliahan kembali selama 2 semester, demi mengambil gelar Gr. di belakang S.Pd. Seleksinya sulit sekali. Ada 3 rangkaian seleksi.
Dan yang terbaru, aku tidak lulus di tes pertama.
Kenapa?
Tidak bayar.
Kala itu uangku hanya cukup untuk ongkos kerja.
Aahhh, frustrasi.
Minggu depan akan kucoba mendaftar ke sekolah swasta (Bismillah ga mager). Tak apa, aku mengabdi. Yang penting dekat orang tua.
Kenapa tidak pergi jauh?
Dilema Mama yang pernah melarangku mengambil job mengajar di Bogor, tapi ketika kubicarakan kembali, Mama malah mengelak.
Hmm. Dasar ibu-ibu.
Selain itu, mungkin trauma bencana yang membuatku terpisah dengan keluarga masih ada. Maka dari itu, walaupun berat, aku masih sanggup tinggal di rumah dan menjadi guru dekat rumah.
Mungkin jalanku memang tidak secepat yang kubayangkan.
Mungkin aku harus melewati fase menjadi pengangguran dulu, gagal seleksi, ditolak sekolah, mempertanyakan sistem, dan sesekali mempertanyakan diri sendiri.
Tapi kalau pada akhirnya aku tetap bisa berdiri di depan kelas, mengajar Geografi, melihat murid-muridku memahami sesuatu yang sebelumnya tidak mereka mengerti, mungkin semua drama ini akan terasa sedikit lebih masuk akal.
Doakan aku, ya.
Semoga aku bisa menjadi guru seperti yang orang tua aku inginkan.
Dan semoga aku semakin dekat dengan S.pd Gr alias PNS. Wkwk. Wlaupun yaaa agak imposible ya tapi ga semustahil dinikahin Wonu kan?



Komentar
Posting Komentar