Convienence Store Woman


Baca buku kupilih di sela waktu memasak makanan untuk makan malam.

Buku ber-cover kuning dengan gambar perempuan yang memegang miniatur toko seperti IndoApril. Dikarang oleh penulis asal Jepang yang namanya kulupa saat menulis ini.

Convenience Store Woman, judul novel itu.

Mengisahkan seorang wanita berumur 30-an yang dilabeli abnormal sejak kecil karena memiliki pandangan berbeda, Ia berusaha memutar kompas hidupnya yg berbeda menjadi sama dengan masyarakat, walaupun begitu ia masih saja dipandang "tidak biasa" karena belum bekerja tetap. Ia hanya menjadi pekerja paruh waktu di minimarket, masih lajang, bahkan tidak terlalu tahu cara berinteraksi dengan orang lain, dan hidup sendirian di kosan sempit.

Ia merasa tidak bisa hidup dengan segala tuntutan kehidupan.

Tapi saat berada di minimarket, ia merasa hidup.

Sayangnya, lingkungan di sekitarnya masih sering mempertanyakan masa depan dan kehidupannya.

Yup, namanya Keiko.

Long story short, dia bertemu dengan pengangguran mokondo yang bercita-cita punya istri kaya raya supaya bisa memulai usaha.

Tapi mana ada wanita yang mau lelaki seperti itu?

Keiko malah memungutnya bak anak kucing terlantar yang membutuhkan susu.

Dan ya, kepolosannya dimanfaatkan oleh cowok mokondo itu.

But in the end, she still choose the convenience store as her identity and life.

Perasaanku setelah membaca ini?

Jujur, tidak nyaman.

Entah kenapa.

Aku memiliki beberapa hal yang mungkin sama dengan Keiko.

Aku masih guru freelance. Tidak punya teman banyak. Kalau Keiko merasa hidup ketika berada di minimarket, aku merasa hidup ketika berada di kelas dan di alam.

Dan aku juga belum pernah memiliki hubungan dengan lawan jenis.

Tapi ada satu hal yang membuatku berbeda.

Keiko berani memilih dirinya sendiri.

Sedangkan aku?

Gatau.

Mungkin itu yang membuat buku ini terasa tidak nyaman untukku.

Karena aku tidak sedang membaca cerita tentang seseorang yang benar-benar asing.

Aku malah seperti sedang melihat kemungkinan diriku sendiri dari jarak yang agak mengganggu.

Keiko tidak terlalu peduli apakah hidupnya terlihat normal bagi orang lain. Ia tahu tempat di mana dirinya merasa berguna dan hidup, lalu memilih tetap berada di sana meskipun orang-orang terus mempertanyakan pilihannya.

Sedangkan aku masih sibuk memikirkan beribu-ribu "what if?"

Maka dari itu setelah selesai membaca buku ini, aku malah membutuhkan tontonan drama ringan seperti romcom atau drama fantasi.

Karena ternyata aku belum siap menghadapi eksistensial crisis setelah membaca novel 160-an halaman.

On My Bed

2026

Komentar

Postingan Populer